Suratku kepadamu mungkin memang tak pernah kau duga. Pertanyaanku pun mungkin sesuatu yang sulit kau jawab. Bagaimana mungkin kau dan aku hanya berteman setelah semua yang kita lalui bersama? Bagaimana mungkin kita menafikan perasaan sendiri dan melipat kenangan ke sudut hati? Bagaimana mungkin harapan yang baru menyala langsung kita matikan begitu saja?
Mungkin kamu belum lupa harapan itu terbit ketika pagi baru saja pergi dan siang datang membawa panas — waktu itu. Kabut lesap ditelan cahaya. Matahari baru saja memamerkan sinar yang berdenyar-denyar membakar jangat.
Aku dan dirimu menggelandang ke timur, menantang matahari. Tanganmu dan jemariku saling bertautan, bergandengan bagaikan bintang dan rembulan dan yang berdekatan di jantung rimba malam.
Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu …
Musim semi di Melbourne. Angin berdesir-desir membawa dingin bulan Oktober ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di bandar udara Tullamarine. Kunaikkan kerah jaket yang membungkus badanku dan bergegas menuju meja imigrasi.
“Welcome to Melbourne, Sir. Have a nice day,” kata seorang petugas imigrasi itu di meja kedatangan. Paras Maorinya yang khas itu memamerkan senyum yang ramah dan bersahabat.
Aku membalas dengan seulas senyum dan berlalu. Jarum jam di atas pintu eksit menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Melbourne sudah sibuk. Orang lalu lalang di trotoar. Kendaraan melaju di atas jalanan beraspal yang licin. Roda-roda trem menjerit berderit-derit.
Setiap tahun harus lebih baik dari tahun sebelumnya . . And i wish for happiness next years . . amiiiiin . .